Perkenalkan, nama saya Devin Darmawan. Sebuah refleksi diri ini saya tulis untuk menelusuri kembali secara mendalam perjalanan spiritual dan pemahaman saya terhadap konsep keberagaman, khususnya toleransi, selama satu semester perkuliahan dan bahkan sejak masa-masa sebelumnya. Menulis refleksi ini adalah kesempatan berharga untuk mengakui dan merayakan transformasi signifikan dalam cara saya memandang dan menyikapi perbedaan agama.
Saya menyadari bahwa setiap individu memiliki titik tolak dalam memahami nilai-nilai luhur. Dan titik tolak saya di masa lalu, harus saya akui, jauh dari kata ideal.
Masa Lalu: Keterbatasan Pengetahuan dan Sikap Meremehkan
Jika saya harus jujur dan transparan, saya mengakui bahwa di masa lalu, saya adalah seorang individu yang memiliki pemahaman dan praktik toleransi yang sangat minim. Saya pernah berada di posisi di mana saya gemar menjadikan simbol-simbol, ritual, atau lagu-lagu rohani agama lain sebagai bahan candaan atau lelucon semata. Tindakan-tindakan ini sering saya lakukan karena kurangnya pengetahuan mendalam mengenai esensi toleransi dan adanya anggapan bahwa hal-hal tersebut remeh.
Pada saat itu, pemikiran saya terkotak-kotak dalam sebuah keyakinan tunggal yang sempit: bahwa agama yang saya anut adalah satu-satunya kebenaran, sehingga keyakinan lain menjadi kurang penting atau layak untuk diremehkan. Pola pikir ini menghasilkan perilaku yang tidak menghargai dan kurang sensitif terhadap kesucian keyakinan orang lain. Saya menjalani hidup tanpa menyadari betapa pentingnya menghormati ruang sakral yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama.
Titik Balik di SMA: Pencerahan Spiritual dan Logika Tuhan
Transformasi radikal dalam cara pandang saya mulai terjadi ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Momen paling krusial yang membuka hati dan pikiran saya adalah ketika saya berkesempatan mengikuti sebuah acara diklat kerohanian intensif di sebuah Vihara selama kurang lebih tujuh hari. Program ini tidak hanya fokus pada pendalaman spiritualitas pribadi, tetapi juga mengajarkan tentang prinsip-prinsip universalitas agama.
Di sanalah, sebuah kebenaran fundamental tertanam kuat dalam diri saya: semua agama pada hakikatnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang sama dan memiliki tujuan akhir yang seragam, meskipun jalan, ritual, atau metode yang digunakan berbeda-beda. Penjelasan ini sungguh mencerahkan; saya mulai melihat bahwa perbedaan yang selama ini saya anggap sebagai sumber konflik, ternyata hanyalah variasi cara mencapai kebaikan dan kedamaian tertinggi.
Selain itu, saya mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai eksistensi Tuhan atau hal-hal yang tak kasat mata. Pengajar saya memberikan analogi yang kuat, yaitu dengan mengibaskan lengan bajunya ke arah kipas angin yang menyala, memperlihatkan bagaimana kain tersebut berkibar karena hembusan angin yang tidak terlihat. Hal ini membuktikan bahwa sesuatu yang tidak dapat diindra secara fisik pun sesungguhnya ada. Penjelasan ini memantapkan keyakinan saya dan memicu penyesalan yang mendalam atas sikap meremehkan saya di masa lalu. Sejak saat itu, saya berkomitmen tidak hanya untuk berhenti menjelek-jelekkan, tetapi beralih menjadi seorang yang menghormati keyakinan orang lain.
Implementasi Toleransi dalam Interaksi Sehari-hari
Komitmen ini kemudian saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan yang lebih peka dan penuh pertimbangan. Sebagai contoh, ketika ada teman saya yang beragama Katolik harus menunaikan kewajiban Doa Rosario, saya dengan tulus menunggu hingga proses ibadah tersebut selesai sebelum melanjutkan kegiatan bersama, seperti bermain game. Contoh lain adalah ketika saya berada di dekat teman-teman yang menjalankan ibadah puasa, saya secara sadar menahan diri untuk tidak makan atau minum secara terbuka di hadapan mereka. Tindakan-tindakan kecil ini, bagi saya, adalah bukti nyata bahwa toleransi telah beranjak dari sekadar teori menjadi praktik yang tulus dan mengakar.
Masa Kini di Kampus Pradita: Ujian Keberagaman
Perjalanan pemahaman ini semakin diperkaya ketika saya memasuki lingkungan akademis di Universitas Pradita. Lingkungan baru ini menyajikan realitas sosial yang berbeda dari masa sekolah saya yang didominasi oleh mayoritas Katolik. Di Pradita, saya menyadari bahwa mayoritas mahasiswa di sini menganut agama Islam, sebuah fakta yang awalnya sempat menimbulkan sedikit rasa kaget. Hal ini disebabkan minimnya interaksi intensif saya dengan rekan-rekan Muslim di masa sekolah.
Namun, kejutan tersebut dengan cepat berubah menjadi sebuah kesempatan emas. Saya tidak pernah menyangka bahwa dalam waktu singkat, saya bisa membangun hubungan pertemanan yang hangat dan akrab dengan banyak rekan yang beragama Islam. Lingkungan kampus ini telah menjadi sebuah laboratorium nyata tentang bagaimana hidup berdampingan dalam perbedaan.
Pengalaman yang paling relevan adalah di mata kuliah agama itu sendiri. Berbeda dengan dugaan saya, kelas ini ternyata digabung untuk semua pemeluk agama. Materi pertama yang kami pelajari secara bersama-sama adalah mengenai Toleransi. Ini adalah fondasi yang luar biasa untuk membangun persatuan dan saling menghormati di lingkungan kampus.
Kami juga banyak melakukan dinamika kelompok, seperti berdiskusi dan menganalisis studi kasus yang berkaitan dengan perdebatan antar agama. Proses diskusi ini, yang melibatkan mahasiswa dari latar belakang keyakinan yang berbeda, sungguh membuka wawasan. Dengan mendengarkan langsung sudut pandang dan penalaran dari teman-teman yang berbeda agama, saya dapat memahami perspektif mereka secara holistik. Proses inilah yang membuat rasa toleransi dalam diri saya tumbuh menjadi lebih tulus dan didasari oleh pemahaman yang mendalam, bukan hanya kepatuhan yang dipaksakan.
Penutup: Harapan untuk Kontinuitas Toleransi
Melihat kembali transformasi dari masa ketidaktahuan di awal, melalui pencerahan spiritual di masa SMA, hingga praktik nyata dan dinamika yang memperkaya di lingkungan kuliah saat ini, saya merasa bersyukur. Perjalanan ini menegaskan bahwa toleransi bukan sebuah bawaan, melainkan sebuah nilai dan keterampilan hidup yang harus terus diasah dan dikembangkan.
Besar harapan saya bahwa rasa toleransi ini akan terus tumbuh dan berakar kuat, tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Saya berharap dapat terus menjadi individu yang tidak hanya menerima keberagaman, tetapi juga mampu merayakannya sebagai kekayaan komunal. Semoga semangat saling menghormati dan menghargai keyakinan ini menjadi pedoman utama saya di masa depan, demi terciptanya kehidupan yang harmonis dan damai.
Tinggalkan komentar