• Nama : Devin Darmawan

    NIM : 2510101035

    Jurusan : Informatika

    Tentang saya

    saya adalah mahasiswa Pradita dengan jurusan infomatika, ini adalah hasil karya dalam bentuk individu maupun kelompok selama 1 semester :

    1. Proposal Kelompok

    Proposal ini membahas bagaimana film horor seperti The Nun 2 dan Makmum dapat memengaruhi cara pandang dan keimanan penonton melalui penggambaran unsur religius. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui wawancara dan kuesioner untuk mengetahui persepsi masyarakat, khususnya generasi muda. Tujuannya adalah mengedukasi masyarakat agar mampu membedakan antara fiksi dan realitas, serta lebih kritis dalam memahami nilai-nilai agama yang ditampilkan dalam film horor.

    2. Link podcast Agama  

    Pembahasan ini mengeksplorasi perbandingan elemen horor antara The Nun dan Makmum melalui sudut pandang suasana, karakter, budaya, hingga pesan religius yang dibawa masing-masing film. Fokus utama terletak pada bagaimana kedua film menciptakan ketakutan: apakah melalui teror supranatural Eropa yang gotik atau horor religi Indonesia yang dekat dengan keseharian. Diskusi juga menyoroti karakter utama, motif makhluk gaib, serta konteks keagamaan yang memengaruhi cara penonton merasakan ketegangan. Selain itu, pembahasan menggali bagaimana budaya lokal, pengalaman spiritual, dan ruang ibadah dapat membentuk jenis horor yang berbeda. Melalui serangkaian pertanyaan analitis, topik ini mengajak pembaca memahami bagaimana film horor tidak hanya menakut-nakuti, tetapi juga mempengaruhi cara kita melihat simbol agama, ruang suci, dan ketakutan personal.

    https://drive.google.com/drive/folders/1alnmEvCQN5-8iM6habwJIgTJ9xdZGSGh?usp=sharing

    3. Refleksi Film (Agora)

    Agora menceritakan perjuangan Hypatia, ilmuwan Alexandria yang mempertahankan kebebasan berpikir di tengah konflik agama dan fanatisme. Penghancuran perpustakaan dan kematian tragis Hypatia menunjukkan bagaimana kebencian dapat menghancurkan ilmu pengetahuan. Film ini menegaskan pentingnya akal, toleransi, dan keberanian berpikir kritis—pesan yang tetap relevan hingga masa kini.

    https://agora793.wordpress.com/?_gl=1*buu5q*_gcl_au*NzA2MDYzNjc4LjE3NjIwNjkzNTE

    4. Refleksi Diskusi Kelompok

    Dalam beberapa minggu kegiatan diskusi dan pembuatan podcast, saya belajar banyak tentang kerja sama, keberanian berpendapat, serta cara menghargai pandangan berbeda. Topik-topik seperti agama, aliran sesat, dan film horor membuka wawasan baru tentang bagaimana perspektif tiap orang bisa sangat beragam. Proses berdiskusi, berbagi tugas, dan menyatukan ide membuat saya lebih peka, lebih terbuka, dan lebih percaya diri untuk berbicara. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa yang terpenting bukan hanya materi yang dibahas, tetapi perkembangan cara berpikir, komunikasi, dan toleransi dalam kelompok.

    5.  Infografis

    https://www.canva.com/design/DAG4eHQ09zA/HTaX0WTperv_dit3mkETdQ/edit

    6. Refleksi diri (dulu,kini,nanti)

    Refleksi ini menceritakan perubahan cara pandang saya tentang toleransi beragama. Dulu saya merasa agama saya paling benar, tetapi pengalaman mengikuti diklat rohani dan berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai keyakinan membuat saya lebih terbuka. Kini saya berusaha menghormati praktik keagamaan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, saya ingin terus mengembangkan sikap toleran dan menjaga kerukunan dalam keberagaman.

    https://dampakfilmhororterhadapkeyakinan.code.blog/

  • Perkenalkan, nama saya Devin Darmawan. Sebuah refleksi diri ini saya tulis untuk menelusuri kembali secara mendalam perjalanan spiritual dan pemahaman saya terhadap konsep keberagaman, khususnya toleransi, selama satu semester perkuliahan dan bahkan sejak masa-masa sebelumnya. Menulis refleksi ini adalah kesempatan berharga untuk mengakui dan merayakan transformasi signifikan dalam cara saya memandang dan menyikapi perbedaan agama.

    Saya menyadari bahwa setiap individu memiliki titik tolak dalam memahami nilai-nilai luhur. Dan titik tolak saya di masa lalu, harus saya akui, jauh dari kata ideal.

    Masa Lalu: Keterbatasan Pengetahuan dan Sikap Meremehkan

    Jika saya harus jujur dan transparan, saya mengakui bahwa di masa lalu, saya adalah seorang individu yang memiliki pemahaman dan praktik toleransi yang sangat minim. Saya pernah berada di posisi di mana saya gemar menjadikan simbol-simbol, ritual, atau lagu-lagu rohani agama lain sebagai bahan candaan atau lelucon semata. Tindakan-tindakan ini sering saya lakukan karena kurangnya pengetahuan mendalam mengenai esensi toleransi dan adanya anggapan bahwa hal-hal tersebut remeh.

    Pada saat itu, pemikiran saya terkotak-kotak dalam sebuah keyakinan tunggal yang sempit: bahwa agama yang saya anut adalah satu-satunya kebenaran, sehingga keyakinan lain menjadi kurang penting atau layak untuk diremehkan. Pola pikir ini menghasilkan perilaku yang tidak menghargai dan kurang sensitif terhadap kesucian keyakinan orang lain. Saya menjalani hidup tanpa menyadari betapa pentingnya menghormati ruang sakral yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama.

    Titik Balik di SMA: Pencerahan Spiritual dan Logika Tuhan

    Transformasi radikal dalam cara pandang saya mulai terjadi ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Momen paling krusial yang membuka hati dan pikiran saya adalah ketika saya berkesempatan mengikuti sebuah acara diklat kerohanian intensif di sebuah Vihara selama kurang lebih tujuh hari. Program ini tidak hanya fokus pada pendalaman spiritualitas pribadi, tetapi juga mengajarkan tentang prinsip-prinsip universalitas agama.

    Di sanalah, sebuah kebenaran fundamental tertanam kuat dalam diri saya: semua agama pada hakikatnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang sama dan memiliki tujuan akhir yang seragam, meskipun jalan, ritual, atau metode yang digunakan berbeda-beda. Penjelasan ini sungguh mencerahkan; saya mulai melihat bahwa perbedaan yang selama ini saya anggap sebagai sumber konflik, ternyata hanyalah variasi cara mencapai kebaikan dan kedamaian tertinggi.

    Selain itu, saya mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai eksistensi Tuhan atau hal-hal yang tak kasat mata. Pengajar saya memberikan analogi yang kuat, yaitu dengan mengibaskan lengan bajunya ke arah kipas angin yang menyala, memperlihatkan bagaimana kain tersebut berkibar karena hembusan angin yang tidak terlihat. Hal ini membuktikan bahwa sesuatu yang tidak dapat diindra secara fisik pun sesungguhnya ada. Penjelasan ini memantapkan keyakinan saya dan memicu penyesalan yang mendalam atas sikap meremehkan saya di masa lalu. Sejak saat itu, saya berkomitmen tidak hanya untuk berhenti menjelek-jelekkan, tetapi beralih menjadi seorang yang menghormati keyakinan orang lain.

    Implementasi Toleransi dalam Interaksi Sehari-hari

    Komitmen ini kemudian saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan yang lebih peka dan penuh pertimbangan. Sebagai contoh, ketika ada teman saya yang beragama Katolik harus menunaikan kewajiban Doa Rosario, saya dengan tulus menunggu hingga proses ibadah tersebut selesai sebelum melanjutkan kegiatan bersama, seperti bermain game. Contoh lain adalah ketika saya berada di dekat teman-teman yang menjalankan ibadah puasa, saya secara sadar menahan diri untuk tidak makan atau minum secara terbuka di hadapan mereka. Tindakan-tindakan kecil ini, bagi saya, adalah bukti nyata bahwa toleransi telah beranjak dari sekadar teori menjadi praktik yang tulus dan mengakar.

    Masa Kini di Kampus Pradita: Ujian Keberagaman

    Perjalanan pemahaman ini semakin diperkaya ketika saya memasuki lingkungan akademis di Universitas Pradita. Lingkungan baru ini menyajikan realitas sosial yang berbeda dari masa sekolah saya yang didominasi oleh mayoritas Katolik. Di Pradita, saya menyadari bahwa mayoritas mahasiswa di sini menganut agama Islam, sebuah fakta yang awalnya sempat menimbulkan sedikit rasa kaget. Hal ini disebabkan minimnya interaksi intensif saya dengan rekan-rekan Muslim di masa sekolah.

    Namun, kejutan tersebut dengan cepat berubah menjadi sebuah kesempatan emas. Saya tidak pernah menyangka bahwa dalam waktu singkat, saya bisa membangun hubungan pertemanan yang hangat dan akrab dengan banyak rekan yang beragama Islam. Lingkungan kampus ini telah menjadi sebuah laboratorium nyata tentang bagaimana hidup berdampingan dalam perbedaan.

    Pengalaman yang paling relevan adalah di mata kuliah agama itu sendiri. Berbeda dengan dugaan saya, kelas ini ternyata digabung untuk semua pemeluk agama. Materi pertama yang kami pelajari secara bersama-sama adalah mengenai Toleransi. Ini adalah fondasi yang luar biasa untuk membangun persatuan dan saling menghormati di lingkungan kampus.

    Kami juga banyak melakukan dinamika kelompok, seperti berdiskusi dan menganalisis studi kasus yang berkaitan dengan perdebatan antar agama. Proses diskusi ini, yang melibatkan mahasiswa dari latar belakang keyakinan yang berbeda, sungguh membuka wawasan. Dengan mendengarkan langsung sudut pandang dan penalaran dari teman-teman yang berbeda agama, saya dapat memahami perspektif mereka secara holistik. Proses inilah yang membuat rasa toleransi dalam diri saya tumbuh menjadi lebih tulus dan didasari oleh pemahaman yang mendalam, bukan hanya kepatuhan yang dipaksakan.

    Penutup: Harapan untuk Kontinuitas Toleransi

    Melihat kembali transformasi dari masa ketidaktahuan di awal, melalui pencerahan spiritual di masa SMA, hingga praktik nyata dan dinamika yang memperkaya di lingkungan kuliah saat ini, saya merasa bersyukur. Perjalanan ini menegaskan bahwa toleransi bukan sebuah bawaan, melainkan sebuah nilai dan keterampilan hidup yang harus terus diasah dan dikembangkan.

    Besar harapan saya bahwa rasa toleransi ini akan terus tumbuh dan berakar kuat, tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Saya berharap dapat terus menjadi individu yang tidak hanya menerima keberagaman, tetapi juga mampu merayakannya sebagai kekayaan komunal. Semoga semangat saling menghormati dan menghargai keyakinan ini menjadi pedoman utama saya di masa depan, demi terciptanya kehidupan yang harmonis dan damai.

  •  

    Kelompok 3 

    1. Yohan S Jalu Prakasa 
    1. Devin Darmawan 
    1. Panji Fadilah 
    1. Ahmad Farel Pratama 
    1. Ridho Pasha Dwi Kurniawan 
    1. Misbahul Habibi 
    1. Pascal Eyota Lukman 
    1. Sazkia Herfi Sakinah 
    1. Hans Handri Tanujaya 

    BAB I 

    1. Latar belakang 

    Film merupakan salah satu media hiburan yang memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, emosi, dan bahkan keyakinan seseorang. Salah satu genre film yang menarik untuk dikaji adalah film horor, karena tidak hanya menyajikan cerita yang menegangkan, tetapi juga sering menampilkan unsur supranatural dan religius. Film horor sering kali menggambarkan pertarungan antara kekuatan baik dan jahat, serta menggunakan simbol-simbol keagamaan sebagai elemen utama dalam cerita. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan apakah film horor hanya sekadar hiburan, atau justru dapat memengaruhi pandangan penonton terhadap keimanan dan nilai-nilai agama. Hal ini menjadi relevan terutama di Indonesia, di mana mayoritas masyarakat memiliki latar belakang religius dan masih memegang erat kepercayaan terhadap hal-hal gaib. 

    Dua contoh film horor yang menarik untuk dijadikan studi kasus adalah The Nun 2 dan Makmum. Kedua film ini menampilkan elemen keagamaan secara eksplisit 

    1. Rumusan Masalah 
    • Apakah film-film horror ini bisa mempengaruhi keimanan seseorang 
    • Perbedaan eksorsisme dari sudut pandang Katolik dan Islam 
    1. Tujuan 

    Mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan fiksi dan realita 

    1.4 Nilai Agama 

    Film The Nun dan Makmum meskipun bergenre horor, mengandung nilai-nilai agama yang kuat. The Nun menampilkan kekuatan doa, iman, dan simbol keagamaan Katolik sebagai perlindungan dari iblis. Sementara itu, Makmum menekankan pentingnya khusyuk dalam salat, kekuatan iman saat diganggu makhluk gaib, serta ajakan untuk bertobat dan kembali kepada ajaran agama. Kedua film ini menunjukkan bahwa keimanan tetap menjadi pelindung utama dalam menghadapi ketakutan dan kejahatan. 

    BAB II 

    2.1 Metode Pelaksanaan 

    Kegiatan ini akan dilaksanakan melalui pendekatan edukatif yang dirancang untuk membekali masyarakat dan pemahaman mendalam tentang radikalisme agama. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan tujuan memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai fenomena Radikalisme di Indonesia. Teknik yang digunakan meliputi wawancara, pendekatan naratif, dan juga menggunakan teknik studi kasus dengan masyara sekitar atau pemuka agama. Dengan teknik tersebut, penelitian ini, diharapkan dapat memperoleh pengalaman, pandangan responden secara langsung. Serta dapat  menyusun kisah atau alur pengalaman individu dengan maksud agar mendapatkan makna yang lebih kompeherensif. 

    2.2 Rencana Kegiatan 

    Mewawancarai masyarakat sekitar Pradita  

    Membuat kuesioner yang akan dibagikan di sekitar lingkungan 

    2.3 Sasaran 

    Sasaran : 

    1. Generasi muda, karena kelompok ini paling mudah dipengaruhi oleh paham radikal 
    1. Generasi melenial, karena jumlah populasi yang besar 
    1. Generasi Alpha 

    BAB III 

    3.1 Kesimpulan 

    Film horor tidak hanya sekadar tontonan yang menegangkan, tetapi juga dapat memengaruhi pandangan, emosi, dan bahkan keimanan seseorang. Dalam studi kasus The Nun 2 dan Makmum, terlihat bahwa film horor sering memasukkan unsur-unsur keagamaan yang kuat, baik dalam konteks Katolik maupun Islam. Film The Nun 2 menekankan pentingnya doa dan simbol religius sebagai bentuk perlindungan dari kekuatan jahat, sedangkan Makmum menunjukkan betapa pentingnya khusyuk dalam beribadah dan kekuatan iman dalam menghadapi gangguan gaib. Nilai-nilai agama ini dapat memberikan pelajaran moral bagi penonton, selama mereka mampu membedakan antara unsur fiksi dan kenyataan dalam kehidupan beragama. 

    Selain itu, penelitian ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menilai pesan yang disampaikan film horor dan tidak terpengaruh oleh ketakutan yang tidak berdasar. Metode kualitatif yang digunakan melalui wawancara dan kuesioner ditujukan untuk memahami sudut pandang masyarakat terhadap tema keagamaan dalam film horor, serta menilai sejauh mana pengaruh film dapat masuk ke dalam pemikiran mereka. Secara keseluruhan, kehadiran film horor dengan muatan religius bisa menjadi media refleksi spiritual apabila disikapi dengan kritis dan bijak. 

    Daftar Pustaka 

    1. https://www.imdb.com/title/tt5814060/ 
    1. https://id.wikipedia.org/wiki/Makmum_(film) 
  • Selamat Datang di WordPress! Ini adalah pos pertama Anda. Sunting atau hapus pos tersebut sebagai langkah pertama dalam perjalanan blogging Anda.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai